Rabu, 23 Januari 2008

Kisah kaos kaki dan cap

Mungkin sepasang kaos kaki bukan sebuah barang yang mahal. Namun sepasang kaos kaki memiliki harga yang mahal, sangat mahal bahkan, apabila dikaitkan dengan nilai-nilai kehidupan.

Beberapa waktu yang lalu sepasang kaos kaki hilang dari sekolah. Memang bukan kaos kaki biasa, melainkan kaos kaki yang yang adalah milik sekolah. Adalah seorang anak laki-laki bernama Sendy yang "dituduh" mengambil kaos kaki tersebut. Sendy memiliki reputasi sebagai seorang anak yang nakal, mudah emosi, memiliki prestasi yang rendah, dan pada saat kejadian dalam proses disiplin karena membawa film yang tidak seharusnya dia bawa untuk anak seusianya. "Tuduhan" tersebut berasal dari pengakuan seorang anak laki laki bernama Bobby yang juga sedang dalam proses disiplin namun disebabkan karena ia mencuri di sebuah supermarket.

Kalau saja kaos kaki dapat berbicara, ia dapat mengatakan siapa sebenarnya yang mengambilnya. Nyatanya hingga saat ini belum diketahui dengan pasti karena Sendy tidak mengakui bahwa ia tidak mengambilnya, sedangkan saksi kunci adalah Bobby, yang notabene memiliki latar belakang pernah mencuri dan suka berbohong.

Satu hal yang menarik dalam peristiwa ini adalah pernyataan Sendy yang mengatakan bahwa semua orang sudah menganggapnya seorang pencuri, anak nakal, dan tidak ada seorangpun yang percaya kepadanya, bahkan sekalipun ia berkata dengan jujur.

Ada lagi kisah tentang seorang anak bernama Pangestu yang selalu mengucapkan salam dengan kalimat, "Selamat pagi semuanya...., terima kasih semuanya....., permisi semuanya....." Bahkan ketika ia mengucapkan salam di depan orang yang lebih tua. Kita dengan mudahnya memberi cap (image) kepada anak tersebut sebagai seorang anak yang sopan.

Berkaitan tentang image, tidak cukup mudah bagi seseorang untuk mengubahnya. Image yang terbentuk dalam waktu bertahun-tahun tidak dengan mudahnya dihapus dengan satu hal baik yang dilakukan. Bermula dari sikap, kebiasaan, akhirnya membuahkan suatu perilaku yang terus menerus, hingga membuat orang lain membuat penilaian tentang seseorang. Memang benar bahwa setiap orang memiliki kebaikan dalam pribadinya, namun tidak dapat dipungkiri bahwa orang lain akan memandang seseorang dari perilaku yang dilakukannya sepanjang hari.

Oleh karena itulah dibutuhkan suatu tekad yang besar untuk mengubah image yang sudah terlanjur melekat kepada diri seseorang. Dibutuhkan suatu perubahan sikap yang konsisten, yang akhirnya menjadikan hal positif tersebut menjadi suatu kebiasaan, dan akhirnya secara perlahan dapat mengubah penilaian orang lain terhadapnya.

Tidak ada komentar: