Selasa, 13 Mei 2008

Perusahaan Yang Peduli Anak Bangsa


Seminggu yang lalu, saya dan beberapa guru dari sekolah kami (SMAK Tunas Bangsa, Sunter) menemani siswa-siswi kami dari kelas XI dalam Praktek Kerja Lapangan (PKP) di PT. Dialogue Garmindo Utama, Ciawi, Jawa Barat. Saya ingin berbagi pengalaman dengan teman-teman, karena kami sangat terinspirasi dengan kepedulian perusahaan tersebut dengan nasib anak bangsa ini.

Perusahaan yang memproduksi perlengkapan bayi, handuk, taplak, keset dan lain-lain tersebut berbaik hati kepada siswa kami untuk melakukan praktek kerja selama empat hari. Perlu dicermati bahwa sekolah kami bukanlah sekolah kejuruan melainkan sekolah menengah umum yang mengutamakan pendidikan karakter dan kewirausahaan. Dengan demikian siswa kami tidak pernah diperlengkapi dengan pengetahuan teknis yang berkaitan dengan proses produksi.

Selama empat hari siswa kami memperoleh pengalaman langsung dalam dunia kerja. Bukan hanya mengamati dari jauh, melainkan dari pukul 8 hingga 4 sore mereka ikut terjun langsung bersama dengan pekerja di perusahaan tersebut, mulai dari pekerjaan administrasi, bordor, pengepakan, mesin, dll.

Bisa dibayangkan, berapa “kerugian” yang ditanggung oleh perusahaan dengan kedatangan kami. Mulai dari waktu yang harus diberikan kepada para pekerja untuk mengajari siswa kami, hingga “kerusakan” hasil produksi karena tangan siswa kami yang belum terlatih.

Apa yang membuat perusahaan tersebut bersikap terbuka untuk kami “ganggu” selama empat hari? Belum lagi ditambah dengan kerelaan mereka dalam memberikan kesempatan kepada anak muda korban tsunami aceh dan para waria untuk bekerja beberapa waktu yang lalu ?

Itu ternyata karena Bp. Yakoeb Kusmanto selaku pemilik perusahaan, mempunyai visi yang besar untuk generasi muda bangsa ini. Beliau memiliki visi untuk memperlengkapi generasi muda dalam dunia wirausaha, memaksimalkan potensi dan juga membangun karakter mereka. Pada tahun 2010 beliau bermimpi bahwa akan ada sekurangnya 6000 orang generasi muda memiliki kesempatan untuk mengecap pengalaman dan pembelajaran di dunia kerja melalui praktek kerja di perusahaannya.

Sungguh suatu kepedulian yang sangat mulia terhadap nasib generasi muda bangsa ini. Adakah pengusaha atau perusahaan lain yang mengikutinya ?

Senin, 12 Mei 2008

Impian Wanita Berumur 87 Tahun


Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya. Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah. Ia menyapa, "Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. Maukah kamu memelukku? " Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya, "Tentu saja boleh!". Dia pun memberi saya ! pelukan yang sangat erat. "Mengapa kamu ada di kampus pada usia yang masih begitu muda dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya berolok-olok. Dengan bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian.""Ah yang serius?" pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya. "Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya!" katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake.

Kami segera akrab. Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.

Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata, "Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."

"Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua. Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya."

"Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan tahun. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan."

"Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya bukan menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapilebih menyesali apa yang tidak kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose". Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua adalah kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.

* * * * *Sediakan waktu untuk berpikir, agar selalu mendapat yang terbaik.
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan hikmat & kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju keharmonisan.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk bekerja, itulah sumber kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.
Sediakan waktu untuk Tuhan, sehingga setelah meninggal menemukan tempat terbaik.

__._,_.___

Rabu, 02 April 2008

Emosi oh emosi.....


Pernahkah kita mengalami suatu kondisi dimana rasanya begitu terbenam dalam emosi tersebut sehingga membuat kita seakan sulit untuk bernafas ? Mungkin kalau itu emosi yang menyenangkan, rasanya kita ingin berlama-lama tenggelam di dalamnya. Tenggelam dalam lautan kegembiraan, danau sukacita, dan bahkan samudra damai sejahtera. Namun kalo itu emosi yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan jiwa, tentu saja kita ingin sekali melompat dari kubangan kemarahan, kesedihan, keputusasaan dan menghirup udara segar kebebasan. Betulkah emosi adalah sekedar perasaan ? Dan apakah benar kondisi disekitar kita adalah penyebab munculnya emosi dalam diri kita ?

Ada satu ilustrasi yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Sebagian besar dari kita pasti pernah merasakan betapa sakitnya sakit gigi. Saya sendiri belum pernah merasakannya, namun kata orang rasa sakitnya sampai ke ubun-ubun. Suatu kali ada seorang yang sedang sakit gigi dan ia nekat memakan setangkup ek krim cone. Sambil memegangi pipinya, ia menyalahkan penjual es krim yang sudah membuat giginya yang berlubang itu terasa sakit.

Konyol memang kalau kita membaca cerita di atas. Orang yang sakit tersebut menyalahkan penjual es krim, yang notabene tidak tahu menahu tentang sakit giginya. Dengan mudahnya kita pasti akan berpikir bahwa seharusnya orang tersebut menyadari bahwa penyebab yang sebenarnya adalah giginya yang sedang berlubang

Namun tidakkah kita sebenarnya seringkali bertindak seperti yang orang tersebut lakukan ? Kita marah-marah berkepanjangan karena pasangan kita lupa akan janjinya, frustasi karena gagal mendapatkan tender, depresi karena ditinggal oleh kekasih kita, putus asa karena gagal masuk perguruan tinggi yang kita idam-idamkan dll. Hal tersebut sama saja dengan saat kita menyalahkan penjual es krim pada saat gigi kita terasa sakit.

Pernahkah kita menyadari bahwa pada saat yang sama ada banyak orang yang mengalami hal yang sama namun memiliki respon yang berbeda ? Mereka sama-sama dikecewakan oleh pasangan, gagal dalam persaingan mendapatkan tender, ditinggal kekasih dan gagal tembus perguruan tinggi impian, namun tidak semua dari mereka memiliki respon marah-marah, frustasi, depresi, putus asa, dll.

Kembali kepada pertanyaan di atas. Apakah emosi adalah sekedar perasaan akibat dari kondisi di sekitar kita. Ternyata tidak. Emosi lebih tepatnya adalah respon kita terhadap sesuatu yang kita percayai. Penyebab utama dar emosi negatif adalah kepercayaan atau pikiran kita yang salah, kondisi di sekitar kita yang tidak menyenangkan hanyalah merupakan pemicu. Sama dengan ilustrasi di atas, es krim hanyalah pemicu sakit gigi, penyebab sebenarnya adalah gigi kita yang berlubang.

Bagaimana selama ini kita mengisi pikiran kita ? Apakah kita mengisi pikiran kita dengan pikiran pikiran negatif atau positif ? Saat kita gagal, apakah kita mengisi pikiran kita kita dengan pikiran bahwa masa depan kita akan hancur ataukah kita berpikir bahwa kegagalan adalah awal dari keberhasilan kita. Saat orang yang kita kasihi meninggalkan kita, apakah yang terlintas dalam pikiran kita adalah bahwa hidup kita pasti akan menderita ataukah kita mengisi pikiran kita dengan pengharapan ?

"Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dengan dirinya sendiri demikianlah ia". Apa yang kita pikirkan berbanding lurus dengan respon kita bahkan seperti apa jadinya kita di masa yang akan datang. Oleh karena itu, pikirkanlah semua yang benar, semua yang baik dan mendatangkan damai sejahtera. Bersyukurlah karena diantara tangkai berduri, ada sekuntum mawar merah yang merekah indah.

Senin, 24 Maret 2008

Siapkah dirimu berkorban untuk orang yang kaukasihi?


Dalam perayaan paskah minggu ini, kita diingatkan akan arti dari suatu pengorbanan. Pengorbanan Seorang Pribadi yang rela merendahkan diriNya agar kita umat yang dikasihiNya mengalami kemenangan.
Secara pribadi dalam minggu paskah ini saya mengalami bagaimana saya harus membuat keputusan untuk mengorbankan kesenangan saya demi orang lain. Liburan selama 3 hari yang sekiranya saya rencanakan untuk berlibur, namun tiba-tiba saja dalam waktu lima menit keputusan tersebut harus berganti dengan hari-hari untuk berkorban bagi orang lain.
Namun saya tidak pernah menyesali keputusan yang saya buat, pengorbanan yang saya berikan untuk orang-orang yang saya kasihi menghasilkan buah yang sangat manis.

Berkorban bukanlah suatu hal yang mudah. Apalagi jika kita tidak tahu untuk apa dan siapa kita berkorban. Berkorban bukanlah suatu perasaan, melainkan lebih pada suatu komitmen. Ada kalanya kita tidak ingin berkorban, namun mau tidak mau kita harus berkorban, dan disanalah pengorbanan yang sesungguhnya.
Berkorban lahir sikap hati yang tulus, bukan topeng
Berkorban bukanlah sikap pasif, namun justru tindakan aktif yang didasari oleh kasih
Berkorban adalah awal dari suatu kemenangan atau suatu hal yang lebih baik
Saat kita berkorban, apalagi disertai dengan air mata, suatu saat pasti kita akan menuai sukacita

Siapkah kita berkorban untuk orang lain yang kita kasihi (keluarga, sahabat), orang lain di sekitar kita, atau bahkan rekan yang membenci kita ? Saat kita rela berkorban untuk rekan yang tidak mengasihi kita, disitulah arti pengorbanan yang sejati. Pengorbanan yang keluar dari kasih tanpa syarat yang telah lebih dulu dinyatakan olehNya bagi kita semua.

Secret of God is Love
Secret of Love is Sacrifice
Secret of Friendship is Concern
Secret of Happiness is Giving

Happy Easter.....

Rabu, 13 Februari 2008

Antara murid, anak, adik, dan temanku di hari valentine


Hari hari ini aku sedang menikmati hubunganku dengan murid-muridku. Mereka dalah muridku, di lain waktu adalah adikku bahkan di lain waktu lagi mereka adalah teman-teman dan rekanku. hmm, mungkin kedengarannya membingungkan. Tapi memang begitulah hubunganku dengan murid-murid SMA-ku. Jarak umur yang tidak terlalu jauh membuatku merasa dekat dengan mereka. Di sekolah mereka adalah murid sekaligus anakku. Di luar sekolah mereka adalah adik bahkan ada beberapa yang merupakan teman sepelayanan dalam gereja.

Suatu hubungan yang kompleks memang. Namun disitulah aku merasakan uniknya suatu hubungan. Bukan berarti aku tidak pernah marah dengan mereka. Kadangkala bahkan kami pernah mengalami suatu konflik pendapat yagn cukup tajam. Bahkan disertai dengan air mata. Mungkin inilah uniknya sekolah kami. Hubungan yang begitu dekat antara guru dan murid membuat hubungan kami begitu personal. Tidak jarang kami saling memberi sentuhan perhatian, merangkul bahkan memberi ciuman kasih, yang pastinya dilakukan oleh guru dan murid yang berjenis kelamin sama.

Salah seorang murid yang cukup spesial dalam hatiku adalah Joshua. Aku pernahmenjadi wali kelasnya selama satu semester. Kami sangat dekat bahkan hingga ia menjadi alumni. Ia kini tidak lagi memanggilku ibu melainkan memanggilku dengan sebutan kakak. Hampir setiap minggu kami masih sering bertemu untuk pelayanan bersama di gereja.

Pernah juga aku mengalami konflik yang cukup tajam dengan salah seorang muridku yang bernama Samdian. Kami berbeda pendapat bahkan konflik kami disertai dengan air mata. Namun akhirnya kami berhasil menyelesaikannya dan terjadi rekonsiliasi. Peristiwa tersebut membuat kami dapat lebih saling mengenal satu sama lain.

Di hari valentine ini ada atmosfer yang beda di sekolah kami. Murid-murid saling berbagi coklat. Kamipun sebagai guru juga memperoleh coklat dari beberapa murid termasuk dari alumni. Bukan hanya coklat, ada salah satu murid yang memberikan bunga mawat kepada wali kelasnya, hingga wali kelasnya begitu terharu.

Hari-hari ini aku diingatkan akan sesuatu hal. Ketika ruangan yang kutempati dipindahkan. Aku mengalami kesulitan untuk bisa dekat dengan murid-muridku. Dulu mereka sering sekali bermain ke ruanganku, hanya untuk menunggu jemputan sambil bercerita, atau hanya untuk makan bersamaku. Kadangkala bahkan aku hampir 'nyaris tidak bisa bernafas' karena murid yang masuk ke ruanganku tidak pernah berhenti.

Namun aku menyadari bahwa mereka membutuhkan aku, bahkan untuk suatu hal yang sederhana misalnya sapaan, sentuhan obrolan, makan bersama dll. Dan itu harus dimulai kembali, sekalipun kini ruanganku sudah tidak senyaman dulu lagi. Karena itulah yang anak remaja butuhkan. Mereka tidak hanya membutuhkan nasehat, namun lebih dari itu mereka membutuhkan pribadi yang peduli dengan hati mereka. Mereka tidak akan peduli seberapa besar yang kita ketahui sampai mereka tahu bahwa kita peduli akan hati dan hidup mereka. Mereka membutuhkan suatu kasih yang dapat dirasakan. Bahkan ketika kita marah, ada satu hal yang harus ada dalam hati mereka. Suatu perasaan bahwa mereka tetaplah pribadi-pribadi yang sangat kita kasihi.

Mungkin ada beberapa orang dari mereka yang tidak lagi menjadi muridku atau anakku, namun yang pasti mereka tetaplah adik dan sahabat dalam hatiku. Aku mengasihi kalian ^.^